CurhatanJune 16, 2007 12:02 am

Hmm,, saya mengawali dengan satu pertanyaan “Untuk apa kita hidup?”(terkesan berat). Pertanyaan yang mendasar, tapi jangan salah loh, banyak orang yang bingung ataupun keliru untuk menjawab pertanyaan ini. Walaupun kebenaran dari pertanyaan ini relative, tetapi saya memiliki pemikiran sendiri yang mau saya share, sekaligus mengingatkan kepada diri saya sendiri dan teman-teman juga, diterima alhamdulillah, dibuang ke tong sampah juga tidak apa-apa.

 

Ok, pertama saya mau mentrace back awal kita semua dilahirkan, menurut teman-teman kenapa c kita yang dipilih untuk dilahirkan. Bayangkan saja diantara jutaan sperma yang berlomba-lomba untuk membuahi sel indung telur hanya satu yang menjadi pemenang, dan itu diri kita sendiri, how lucky we are. Sekali lagi kenapa kita yang dipilih, semua itu jelas punya tujuan.

 

Kita telah ditakdirkan Allah menjadi manusia, seorang khlifah bagi dirinya sendiri dan juga alam ini. Suatu amanah yang sangat berat, bahkan gunung sekalipun menolak ketika diminata Allah untuk dijadikan khalifah di bumi ini. Selain itu manusia juaga diciptakan untuk beribadah kepada Allah dan mencari ridho sang khalik tersebut. Dua point itulah yang mau saya angkat dalam tulisan saya ini.

 

Khalifah atau dalam bahasa Indonesia Pemimpin yaitu, dalam pengertian awam, orang yang bertanggung jawab terhadap hal-hal yang dipimpinnya, pengertian itu mengimplikasikan bahwa kita bertanggung jawab atas diri kita sendiri dan lingkungan sekitar kita. Coba lihat diri kita masing-masing sudah seberapa baik diri kita dan sudah seberapa beres lingkungan sekitar kita. Banyak diantara kita hanya peduli pada dirinya sendiri dan kurang peduli dengan orang lain, sebagian mereka beralasan bahwa diri kita  sendiri saja belum beres sudah mau mengatur orang lain. Anggapan yang menurut saya salah, saya berpikir 2 hal (memperbaiki diri sendiri dan memperbaiki lingkungan sekitar) tersebut harus dilaksanakan secara parallel, klo menunggu untuk memperbaiki diri kita baru peduli terhadap orang lain, saya rasa kita tidak akan pernah punya kesempatan untuk peduli kepada orang lain. Ya pikirkan saja tidak ada parameter yang baku untuk mengukur kualitas seseorang, bisa saja orang yang sudah cukup berkualitas menganggap dirinya tidak berkualitas, selain itu kualitas seseorang itu bersifat fluktuatif, dengan alasan itu predikat baik diri kita tidak perlu dijadikan prasyarat untuk peduli dan berkontribusi terhadap orang lain. Pada dasarnya manusia memiliki keinginan untuk diperhatikan, untuk itulah kita tidak perlu ragu untuk sama-sama saling mengingatkan, apabila ini dilakukan sesuai dengan proporsinya akan tercipta suatu hubungan yang saling menguntungkan dan secara tidak langsung mengakrabkan hubungan interpersonal di dalam suatu komunitas.

 

“Tidaklah aku ciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah kepadaku”, dari ayat diatas jelaslah bahwa kita diciptakan hanya untuk beribadah kepada Tuhan. Konteks beribadah ini sangat luas, bukan hanya terskop dalam bentuk ibadah vertical saja, tetapi juga horizontal. Banyak orang yang terjebak dalam konteks berpikir bahwa yang namanya beribadah adalah ibadah yang berhubungan langsung dengan tuhan atau biasa disebut dengan ritual, bagi orang Islam contohnya solat, puasa, berzakat (sekuler). Ibadah tidak hanya itu saja, semua aktifitas yang kita lakukan memiliki nilai ibadah, menuntut ilmu, bersosialisasi, mengerjakan tugas, bahkan hal kecilpun seperti mandi ataupun tidur dapat memiliki nilai ibadah. Hanya satu hal yang menjadikan aktifitas kita memiliki nilai ibadah  yaitu niat, coba kita renungkan kembali apa yang menjadi niat kita ketika melakukan semua hal tersebut. Contoh, sebagai mahasiswa informatika,yang kehidupannya selalu dipenuhi dengan tubes, apa tujuan kita mengerjakan tugas-tugas tersebut? Sangat disayangkan apabila tujuan kita hanya nilai, ada hal lain yang jauh lebih berharga dari itu semua. Niat disini juga berpengaruh pada penyikapan kita terhadap hasil dari aktiftas yang kita lakukan, dengan niat yang berorientasikan hasil bisanya akan muncul sikap menyalahkan diri sendiri, merasa tidak mampu apabila hasil yang kita peroleh tidak sebanding dengan usaha yang kita lakukan dan sikap-sikap tersebut kemungkinan besar akan berujung pada keputusasaan. Berbeda apabila niat kita  adalah ibadah, dengan niat seperti itu kita memiliki anggapan bahwa semakin besar usaha yang kita lakukan semakin besar nilai ibadah yang kita terima, tetntu saja anggapan ini akan meningkatkan kinerja kita dalam melakukan aktifitas tersebut dan walaupun nantinya hasil yang kita peroleh tidak sesuai dengan harapan kita, kita tidak akan terjebak di dalam keputusasaan, karena nilai yang jauh lebih besar sudah kita dapatkan melalui proses kerja keras yang telah kita lakukan.

       

Jadi idealnya hidup ini harus diwarnai dengan berbenah diri dan berkontribusi, kemudian jangan lupa semua itu harus dilandasi dengan niat ikhlas untuk beribadah dan mengharap rido darinya.

 

CurhatanJune 15, 2007 7:27 am

Assalammualaikum Wr. Wb.

Salam,,

Pa kabar,,, lama tak jumpa,,, ^_^

Ada isu menarik nih yang harus dibahas, yaitu nasib teman-teman STEI 2006. Kaderisasi sudah lebih dari setengah jalan tapi masih banyak perdebatan tentang pelantikan STEI 2006 itu sendiri. Ada 3 opsi format scenario after kaderisasi. Yang pertama setelah kaderisasi STEI 2006,kita akan mengadakan LKO, katanya c materi yang disampaikan di kaderisasi 2006 hanya sedikit menyentuh ke HMIF-an, seperti bagaimana kultur himpunan, struktur organisasi dan lain-lain. Nah nantinya LKO tersebut akan ditutup dengan pelantikan. Opsi kedua setelah kaderisas akan diadakan pelantikan, setelah itu baru LKO. Yang ketiga setelah kaderisasi ada suatu acara “penembusan dosa” buat anak STEI yang tidak lulus kaderisasi, ya sampai sekarang konsep acaranya lom jelas, maksud diandakan acara itu ialah biar massa IF06 nya lebih banyak, soalnya yang boleh ikut LKO hanya yang lulus kaderisasi, tapi kasihan juga nih PSDA nya,harus bikin acara lagi L. ya udah deh biar lebih jelas nih kelebihan dan kekurangan masing-masing opsi, tanggepin ya, please,,,

 

1.   Opsi 1 yang lulus kaderisasi ikut LKO, dilantik dsitu

Kelebihan:

·     Kader mendapat proses kaderisasi yang utuh

·     2006 yang ikut kaderisasi dengan baik mendapat apresiasi

Kekurangan:

·        Proses perizinan LKO berkelit. ->tapi yang ini c bisa tipu2

2.   Opsi2

Kelebihan:

·     Abis kaderisasi status langsung anggota biasa, jadinya anak2 ini bisa langsung kita manfaatkan, hehe,,,

·     LKO ga ada tipu2.

Kekurangan:

·        Bingung ni LKOnya kaya gimana, bakal garing g ada pelantikan

·        Pesertanya pun dikhawatirkan sedikit, secara mereka sudah dilantik duluan

3.   Opsi 3

Kelebihan:

·     Yang jelas kuantitas anak-anaknya lebih banyak, soalnya yaitu ada acara penembusan dosa.

Kekurangan:

·        Kasiahan kan yang udah ikut cape2 dari awal, kya ga ada penghargaannya

·        Ga adil

·        Kasihan PSDA nya bikin acara baru

 

Ayo silahkan berkomentar,,,

Sebagai info tambahan sebenernya pada acara kaderisasi ada proses advokasi jadi yang g lulus kaderisasi masih punya kesempatan buat lu2s. Gitu aja deh brow,,, terima kasih,,,

 

Wassalam,,,

 

Halim G